Dalam dunia digital marketing yang bergerak sangat cepat, aturan main Google selalu berubah. Dulu, menjejali artikel dengan kata kunci (keywords) sudah cukup untuk membuat website Anda nangkring di halaman pertama. Namun, di tahun 2025 dan 2026 ini, strategi itu sudah usang.
Google kini jauh lebih “manusiawi”. Algoritma Google telah berevolusi untuk tidak hanya membaca teks, tetapi juga merasakan pengalaman yang didapatkan pengguna saat mengunjungi website Anda. Inilah yang melahirkan istilah standar baru bernama Core Web Vitals.
Bagi pemilik bisnis, mengabaikan Core Web Vitals sama saja dengan membiarkan toko Anda berantakan, pelayanannya lambat, dan pintunya macet—pelanggan pasti akan kabur ke toko sebelah (kompetitor).

Lantas, apa itu Core Web Vitals? Mengapa hal ini menjadi faktor penentu mati-hidupnya ranking SEO website Anda? Dan yang terpenting, bagaimana cara mengoptimasinya agar bisnis Anda tetap relevan? Mari kita bedah secara mendalam dan tuntas di artikel ini.
Mengenal Konsep “Page Experience” Google
Sebelum masuk ke teknis, kita harus paham filosofinya. Google memiliki satu misi utama: Memberikan hasil pencarian terbaik bagi penggunanya.
“Terbaik” di sini bukan hanya informasinya akurat, tapi juga website-nya nyaman diakses. Google tidak ingin merekomendasikan website yang lemot atau tombolnya sulit diklik, karena itu akan membuat pengguna Google kecewa.
Oleh karena itu, Google merilis dokumen resmi mengenai Web Vitals (Outbound Link), sebuah inisiatif untuk memberikan panduan kualitas terpadu bagi pemilik website. Di dalam Web Vitals tersebut, ada 3 pilar utama yang disebut Core Web Vitals. Ketiga pilar ini adalah rapor merah/hijau yang menentukan apakah website Anda layak disebut “User Friendly” atau tidak.
3 Pilar Utama Core Web Vitals (Wajib Tahu)
Core Web Vitals terdiri dari tiga metrik spesifik yang mengukur kecepatan, interaktivitas, dan stabilitas visual. Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa yang mudah dimengerti.
1. LCP (Largest Contentful Paint) – Soal Kecepatan Visual
Secara sederhana, LCP menjawab pertanyaan pengguna: “Apakah konten utamanya sudah muncul?”
LCP mengukur waktu yang dibutuhkan untuk memuat elemen terbesar yang terlihat di layar pengguna (biasanya gambar utama/banner atau judul besar).
Hijau (Bagus): Di bawah 2,5 detik.
Kuning (Perlu Perbaikan): Antara 2,5 detik hingga 4 detik.
Merah (Buruk): Di atas 4 detik.
Jika LCP website Anda merah, artinya saat pelanggan membuka link Anda, mereka hanya melihat layar putih kosong atau loading berputar-putar terlalu lama. Ini adalah pembunuh konversi nomor satu.
2. INP (Interaction to Next Paint) – Soal Responsivitas
(Catatan: INP telah menggantikan metrik lama FID atau First Input Delay sebagai standar yang lebih akurat).
INP menjawab pertanyaan pengguna: “Apakah website ini responsif saat saya klik?”
Pernahkah Anda menekan tombol “Beli” atau menu navigasi di sebuah website, tapi tidak terjadi apa-apa selama beberapa detik? Itu tandanya INP-nya buruk. Website terasa berat dan tidak responsif.
Hijau (Bagus): Di bawah 200 milidetik.
Kuning: Antara 200 – 500 milidetik.
Merah: Di atas 500 milidetik.
Untuk website Toko Online (E-commerce), nilai INP yang buruk sangat fatal karena bisa menyebabkan kegagalan proses Checkout.
3. CLS (Cumulative Layout Shift) – Soal Kestabilan
CLS menjawab pertanyaan pengguna: “Apakah tampilan website ini stabil dan tidak loncat-loncat?”
Bayangkan Anda sedang membaca artikel, tiba-tiba sebuah iklan muncul di bagian atas dan mendorong teks yang sedang Anda baca ke bawah. Atau lebih parah lagi, Anda ingin menekan tombol “Cancel”, tapi karena layar bergeser, Anda malah tidak sengaja menekan tombol “Buy”.
Pergeseran tata letak yang mengganggu ini diukur oleh CLS.
Hijau (Bagus): Skor di bawah 0.1.
Merah (Buruk): Skor di atas 0.25.
Website dengan CLS buruk seringkali dicap sebagai website “spam” atau tidak profesional oleh pengunjung.
Dampak Fatal Core Web Vitals Terhadap Bisnis
Mungkin Anda bertanya, “Apakah saya harus peduli sedetail ini? Saya kan cuma jualan jasa, bukan perusahaan teknologi.”
Jawabannya: Sangat Harus. Berikut alasannya berdasarkan data bisnis:
1. Faktor Ranking SEO Resmi
Google telah mengonfirmasi bahwa Core Web Vitals adalah sinyal peringkat (Ranking Signal). Jika ada dua website dengan konten yang sama bagusnya, Google akan memprioritaskan website yang memiliki skor Core Web Vitals lebih hijau. Jika website Anda merah semua, jangan harap bisa bertahan di posisi 1.
2. Pengaruh Langsung ke Biaya Iklan (Google Ads)
Jika Anda beriklan di Google Ads, website dengan Landing Page Experience yang buruk (lemot/tidak stabil) akan mendapatkan Quality Score yang rendah. Akibatnya? Biaya per klik (CPC) Anda menjadi lebih mahal, dan iklan Anda jarang muncul. Optimasi website bisa menghemat budget iklan jutaan rupiah.
3. Tingkat Konversi (Sales)
Studi dari Vodafone (Outbound Link) menunjukkan bahwa peningkatan LCP sebesar 31% saja mampu meningkatkan total penjualan (sales) sebesar 8%. Website yang cepat membangun kepercayaan (trust) instan.
Cara Mengecek Skor Website Anda
Anda tidak perlu menjadi programmer untuk melihat rapor website Anda. Google menyediakan alat gratis:
Google Search Console (GSC): Ini adalah cara terbaik. Masuk ke menu “Experience” > “Core Web Vitals”. GSC akan menunjukkan URL mana saja di website Anda yang memiliki performa “Poor” atau “Need Improvement” berdasarkan data nyata pengguna (Field Data).
PageSpeed Insights: Gunakan ini untuk cek satu per satu halaman dan mendapatkan saran teknis perbaikan.
Langkah Konkret Memperbaiki Core Web Vitals
Jika setelah dicek ternyata hasilnya banyak yang merah, apa yang harus dilakukan? Berikut adalah beberapa langkah optimasi teknis yang biasa dilakukan oleh para Webmaster:
Kompresi Gambar Tingkat Lanjut: Mengubah format gambar JPG/PNG menjadi WebP yang jauh lebih ringan tanpa mengurangi kualitas.
Penerapan Caching: Menggunakan teknologi caching di sisi server dan browser agar website tidak perlu memuat ulang data yang sama berulang kali.
Minifikasi Kode: Menghapus spasi dan baris yang tidak perlu pada kode CSS, JavaScript, dan HTML agar file lebih kecil.
Optimasi Server: Menggunakan hosting dengan performa tinggi atau Content Delivery Network (CDN).
Mengatur Dimensi Gambar: Menentukan ukuran lebar dan tinggi pada setiap gambar untuk mencegah CLS (layar bergeser).
Kesimpulan: Jangan Ambil Risiko Sendirian
Memahami teori Core Web Vitals adalah satu hal, namun mempraktekkannya adalah hal lain. Optimasi ini melibatkan pengeditan kode teknis di dalam “mesin” website Anda. Salah satu baris kode yang terhapus bisa menyebabkan website error atau tampilan berantakan (layout broken).
Bagi pemilik bisnis, waktu Anda terlalu berharga untuk dihabiskan mengutak-atik kode teknis yang rumit. Fokuslah pada pengembangan bisnis dan penjualan Anda.
Biarkan kami yang mengurus teknisnya.
Jika Anda melihat skor merah pada LCP, INP, atau CLS website Anda, segera konsultasikan dengan tim Jasa SEO Website dari Enterpage. Kami memiliki layanan khusus Jasa Audit Website yang akan mendiagnosa masalah performa hingga ke akarnya dan memperbaikinya agar kembali hijau di mata Google.
Ingat, di dunia digital, kecepatan bukan sekadar fitur. Kecepatan adalah uang. Amankan peringkat dan omzet bisnis Anda sekarang.




